Kamis, 26 September 2013

Cangkir yang kau tinggalkan

Hari ini cangkirku masih kosong, Entah sudah berapa kali aku mencoba mengisinya dengan yang lain. Tapi sampai saat detik terakhir aku menulis surat ini, belum ada satupun teh yang sebanding dengan hangatnya air teh kepribadianmu.




Aku sudah mencari ke setiap warung, bertanya apakah ada yang menjual teh semanis dan sehangat dirimu? lalu mereka menawarkan ku bermacam-macam merek, dari yang lebih mahal sampai yang lebih berkualitas dari pada kamu. Tetapi sungguh, walau sebanyak apapun gula dan air panas yang ku tuangkan, semua terasa hambar jika bukan kau yang mengisi seluruh sisi ruang cangkirku.


Sejujurnya, aku menyesal tidak mencicipimu dulu. yang kulakukan hanyalah mencium aroma uap kepedulian darimu, tanpa menyadari bahwa ada rasa sayang yang kau selipkan lewat butir butir hangat katamu. Sikap dingin itukah yang membuatmu membeku lalu diam-diam berubah menjadi uap kecil dan meninggalkanku?


cangkirku semakin berkarat, gagangnya pun semakin retak.Mungkin tak lama lagi benda itu akan pecah, berserakan berkeping keping seperti sampah, dan berterbangan layaknya debu pasir yang ditendang tendang kasar oleh kuli bangunan.

sebelum semuanya benar-benar hancur dan lenyap, izinkan aku untuk berkata. bahwa sepahit apapun dirimu sekarang, aku masih tetap sayang padamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar